PEMANFAATAN PEKARANGAN BERO UNTUK USAHATANI BUAH NAGA

  • Dewa Oka Suparwata Universitas Muhammadiyah Gorontalo, Program Studi Agribisnis Jl. Prof. Dr. Ir. H. Mansoer Pateda, Desa Pentadio Timur, Telaga Biru, Gorontalo, 96181 *)E-mail: suparwata_do@umgo.ac.id
  • Muchlis Djibran Universitas Muhammadiyah Gorontalo, Program Studi Agribisnis Jl. Prof. Dr. Ir. H. Mansoer Pateda, Desa Pentadio Timur, Telaga Biru, Gorontalo, 96181 *)E-mail: suparwata_do@umgo.ac.id
Keywords: Lahan pekarangan; bero; usahatani; buah naga

Abstract

Tujuan penelitian ialah untuk mengkaji pemanfaatan pekarangan bero untuk usahatani buah naga. Penelitian ini didesain dengan metode survei jenis ex post facto, dilakukan di Desa Banuroja Kecamatan Randangan pada bulan Maret sampai Mei 2018, dengan jumlah sampel 48 responden yang ditentukan secara purposive. Data dianalisis secara eksploratif dan deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: kisaran lahan milik petani yakni 1-2 Ha (64,6%) dengan pemanfaatan lahan pekarangan <0,25 Ha (56,3%). Buah naga yang diusahatanikan sebanyak 60,4% jenis kulit merah dengan daging merah, dengan penerapan pola tanam monokultur yang dominan (81,25%). Dalam penggunaan pupuk dasar sebanyak 50,0% petani memilih pupuk oraganik dari kotoran ternak sapi. Tiang rambatan yang digunakan sebanyak 73% petani menggunakan tiang panjatan dari kayu hidup/potong. Bibit tanaman diperoleh dari stek batang/sulur, tinggi bibit berkisar antara 30 cm - <60 cm (35,4%), jumlah bibit ditanam dominan 2 bibit/tiang (79,2% ), dengan jarak tanam 2 m x 3 m (35,4%). Kegiatan pemeliharaan meliputi; pengikatan, pemupukan, penyiangan, dan pengendalian hama penyakit tanaman (HPT). Panen perdana dilakukan pada umur 7-8 bulan (35.42%), selanjutnya panen raya setiap triwulan. Pemanfaatan pekarangan ini memberikan manfaat ganda selain untuk tempat tinggal, juga untuk usahatani buah naga, yang mengintensifkan lahan pekarangan bero menjadi lebih potensial.

Published
2019-01-11