Journal Of Agritech Science (JASc) http://jurnal.poligon.ac.id/index.php/jasc <p>Journal of Agritech Science (JASc) adalah jurnal ilmiah yang mempublikasikan hasil-hasil penelitian dalam bidang rekayasa dan teknologi pengolahan hasil pertanian, peternakan dan perikanan. Terbit pertama kali pada tahun 2017. Terbit dua kali dalam setahun pada bulan Mei dan November.</p> Program Studi Teknologi Hasil Pertanian, Politeknik Gorontalo en-US Journal Of Agritech Science (JASc) 2549-2241 PEMANFAATAN PEKARANGAN BERO UNTUK USAHATANI BUAH NAGA http://jurnal.poligon.ac.id/index.php/jasc/article/view/251 <p>Tujuan penelitian ialah untuk mengkaji pemanfaatan pekarangan bero untuk usahatani buah naga. Penelitian ini didesain dengan metode survei jenis ex post facto, dilakukan di Desa Banuroja Kecamatan Randangan pada bulan Maret sampai Mei 2018, dengan jumlah sampel 48 responden yang ditentukan secara purposive. Data dianalisis secara eksploratif dan deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: kisaran lahan milik petani yakni 1-2 Ha (64,6%) dengan pemanfaatan lahan pekarangan &lt;0,25 Ha (56,3%). Buah naga yang diusahatanikan sebanyak 60,4% jenis kulit merah dengan daging merah, dengan penerapan pola tanam monokultur yang dominan (81,25%). Dalam penggunaan pupuk dasar sebanyak 50,0% petani memilih pupuk oraganik dari kotoran ternak sapi. Tiang rambatan yang digunakan sebanyak 73% petani menggunakan tiang panjatan dari kayu hidup/potong. Bibit tanaman diperoleh dari stek batang/sulur, tinggi bibit berkisar antara 30 cm - &lt;60 cm (35,4%), jumlah bibit ditanam dominan 2 bibit/tiang (79,2% ), dengan jarak tanam 2 m x 3 m (35,4%). Kegiatan pemeliharaan meliputi; pengikatan, pemupukan, penyiangan, dan pengendalian hama penyakit tanaman (HPT). Panen perdana dilakukan pada umur 7-8 bulan (35.42%), selanjutnya panen raya setiap triwulan. Pemanfaatan pekarangan ini memberikan manfaat ganda selain untuk tempat tinggal, juga untuk usahatani buah naga, yang mengintensifkan lahan pekarangan bero menjadi lebih potensial.</p> Dewa Oka Suparwata Muchlis Djibran ##submission.copyrightStatement## 2019-01-11 2019-01-11 2 2 72 72 10.30869/jasc.v2i2.251 ANALISIS TINGKAT PENERIMAAN NUGGET IKAN CAKALANG (Katsuwonus pelamis L.) DENGAN PENAMBAHAN BONGGOL PISANG http://jurnal.poligon.ac.id/index.php/jasc/article/view/252 <p>Nugget merupakan salah satu jenis variasi makanan lauk olahan siap saji dan digemari semua kalangan usia. Nugget adalah jenis makanan lauk pauk berkadar protein tinggi yang terbuat dari bahan dasar hewani dan dicampur dengan bahan lain melalui proses pemaniran dan penggorengan. Umumnya, nugget terbuat dari bahan dasar hewani seperti ayam, daging sapi, udang dan ikan. Nugget ikan sama dengan Nugget ayam hanya saja perbedaan terletak pada bahan baku yang digunakan. Salah satu jenis ikan yang dapat diolah menjadi nugget yaitu ikan cakalang. Ikan cakalang memiliki kandungan mineral makro dan mikro yang sangat dibutuhkan oleh tubuh. Kebanyakan produk olahan daging seperti nugget pada umumnya memiliki kelemahan pada kandungan serat yang rendah sehingga belum mencukupi serat pangan (dietary fiber). Adanya penambahan bonggol pisang pada nugget ikan cakalang akan meningkatkan kandungan serat karena bonggol pisang merupakan salah satu sumber serat pangan yang mempunyai peran penting untuk menjaga kesehatan tubuh Penelitian ini menggunakan metode rancangan acak lengkap yang terdiri atas tiga perlakuan tingkat perbandingan bonggol pisang dan ikan cakalang, yaitu perlakuan A= 75% : 25% , B= 50% : 50%, C= 25% : 75%, masing-masing perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Variabel yang diamati yaitu uji organoleptic meliputi: rasa, aroma, warna dan tekstur. Hasil penelitian menunjukkan tingkat kesukaan terhadap rasa berkisar antara 5,40 – 5,73, aroma 5,10 – 5,93, warna 5,07 – 5,60 dan tekstur 5,20 – 5,50 dan termasuk dalam kategori agak suka. </p> Satria Wati Pade ##submission.copyrightStatement## 2019-01-11 2019-01-11 2 2 90 90 10.30869/jasc.v2i2.252 FORMULASI KONSENTRASI JAGUNG (Zea Mays L.) HIBRIDA KERING TERHADAP MUTU FISIKOKIMIA KERUPUK http://jurnal.poligon.ac.id/index.php/jasc/article/view/257 <p>Kerupuk jagung merupakan pangan yang potensial baru kaya karbohidrat yang bermanfaat dan bernilai ekonomi tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat penerimaan panelis dan karakteristik sifat fisikokimia terhadap kerupuk jagung. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa analisis fisikokimia mutu kerupuk pada beberapa formulasi konsentrasi jagung yang terbaik adalah perlakuan A1(uji tekstur tingkat kekerasan 1955.83%),perlakuan A2(kadar abu 1.83%), dan perlakuan A3 (kadar air 7.37%, dan volume pengembangan 58.36%).</p> Desi Arisanti ##submission.copyrightStatement## 2019-01-11 2019-01-11 2 2 96 96 10.30869/jasc.v2i2.257 KARAKTERISTIK TEPUNG AMPAS KELAPA http://jurnal.poligon.ac.id/index.php/jasc/article/view/256 <p>Ampas kelapa merupakan limbah yang diperoleh dari hasil pengolahan kelapa / pembuatan minyak kelapa. Pada umumnya limbah ini jarang dimanfaatkan masyarakat dan biasanya hanya dijadikan pakan ternak. Padahal jika diteliti lebih jauh ternyata ampas kelapa memiliki kandungan galaktomanan yang mempunyai peran penting dalam bidang pangan dan kesehatan. Tepung Ampas kelapa adalah Tepung adalah bahan baku utama pembuatan berbagai jenis makanan (kue). Disamping sebagai sumber pati(gizi), tepung juga sebagai pembentuk struktur. Sifat fisik tepung yang harus diperhatikan adalah harus berwarna putih , tidak menggumpal dan tidak lengket. Dikaitkan dengan sifat kimia daging buah kelapa hibrida maka yang berperan pada sifat fisik tepung adalah kadar galaktomanan dan fosfolipida.. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik dari tepung ampas kelapa dihasilkan dari proses ekstrak pada ampas kelapa berdasarkan kadar air, kadar abu, kadar protein, kandungan karbohidrat, uji warna. Penelitian dilakukan di Laboratorium Teknologi Hasil Pertanian Politeknik Gorontalo. Penelitian ini menggunakan <em>software Minitab 16 </em>dengan metode Sedangkan perlakuan yang diguankan adalah lamanya waktu pengeringan yaitu 2 jam, 4 jam dan 6 jam.</p> Rosdiani Azis Ingka Rizkyani Akolo Rizkyani Akolo ##submission.copyrightStatement## 2019-01-11 2019-01-11 2 2 104 104 10.30869/jasc.v2i2.256 SOSIS IKAN CAKALANG (Katsuwonus pelamis L.) DENGAN PENAMBAHAN WORTEL (Daucus carota) DAN PATI SAGU (Metroxylon sp) http://jurnal.poligon.ac.id/index.php/jasc/article/view/258 <p>Sosis merupakan salah satu jenis pangan olahan yang di buat dari daging lumat yang dicampur bumbu-bumbu atau rempah-rempah kemudian dimasukkan dalam pengbungkus atau selonsong berbentuk bulat panjang. Ikan&nbsp; Cakalang&nbsp; (<em>Katsuwonus&nbsp; pelamis</em>)&nbsp; adalah&nbsp; jenis&nbsp; ikan laut yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia&nbsp; dan memiliki kandungan protein tinggi yang baik untuk tubuh&nbsp; manusia&nbsp; sehingga ikan&nbsp; tergolong&nbsp; sumberdaya&nbsp; perikanan&nbsp; pelagis&nbsp; penting&nbsp; dan&nbsp; merupakan salah satu komoditi ekspor non-migas tidak hanya sebagai makanan pokok, ikan cakalang juga dapat pula diolah menjadi suatu produk yang bergizi yaitu sosis dengan penambahan wortel (<em>Daucus carota</em>) dan Pati sagu (<em>Metroxylon sp</em>).Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui formulasi terbaik antara wortel dan pati sagu pada pembuatan sosis ikan cakalang. Rancangan percobaan yang digunakan pada tugas akhir ini adalah metode rancangan acak lengkap (RAL). Tahap-tahap dalam tugas akhir ini diantaranya dengan melakukan studi pustaka, pengumpulan data, dan analisis. Teknik pengujian yang digunakan adalah uji tingkat kesukaan, uji kadar air, uji kadar abu, uji tekstur, dan uji warna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formulasi terbaik antara wortel dan pati sagu pada pembuatan sosis ikan cakalang untuk tingkat kesukaan penerimaan panelis adalah formulasi S3 (Wortel 75% dan Pati sagu 25%) dengan nilai rata-rata tingkat kesukaan yaitu 6.33. Adapun hasil analisis kimia pada sosis pada beberapa formulasi wortel dan pati sagu perlakuan S1 yaitu kadar air 65.53%, kadar abu 1,4%, uji tekstur ada 2 yaitu tingkat kelengketan 4,89% dan tingkat kekerasan 9448.08%, dan uji warna 48,70%. Untuk perlakuan S2 yaitu kadar air 64,46%, kadar abu 1,57%, teksur : tingkat kelengketan 4.88% dan tingkat kekerasan 5567.64%, dan uji warna 42,13%. Untuk perlakuan S3 yaitu kadar air 57,46%, kadar abu 2,52%, tekstur : tingkat kelengketan 4,95% dan tingkat kekerasan 3797,48%, dan uji warna 41,48%.</p> Santri Sidu Adnan Engelen Abd Azis Hasan ##submission.copyrightStatement## 2019-01-11 2019-01-11 2 2 117 117 10.30869/jasc.v2i2.258 ANALISIS PERBANDINGAN PRODUKSI DAN PENDAPATAN TANAMAN KENTANG BENIH VARIETAS GENERASI BARU DAN BENIH VARIETAS LOKAL DI KABUPATEN GOWA PROVINSI SULAWESI SELATAN http://jurnal.poligon.ac.id/index.php/jasc/article/view/259 <p>Usahatani Kentang merupakan salah satu komoditi yang mempunyai prospek cerah guna menambah pendapatan para petani dan merupakan kesempatan kerja bagi masyarakat pedesaan. Kebutuhan dan permintaan akan komoditas ini dari tahun ketahun terus meningkat. Peningkatan ini disebabkan oleh makin meluasnya penggunaaan produk kentang untuk berbagai bahan makanan, baik sebagai bahan sayuran, makanan ringan maupun kebutuhan industri.Tujuan penelitian ini Untuk menganalisis jumlah biaya dan hasil produksi yang diperoleh petani pada penggunaan benih varietas baru dan benih varietas Lokal, Mengkaji perbedaan pendapatan petani yang menggunakan benih varitetas baru dan yang menggunakan benih varietas lokal. Metode pengolahan data dalam Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan Teknik penarikan sampel untuk lokasi penelitian ini dilakukan secara sengaja dengan mengambil 40 responden petani yang menanam kentang. Hasil penelitian penunjukkan bahwa Total biaya varietas lokal yaitu Rp. 40.656.517 dan jumlah produksi varietas lokal adalah Rp. 2.580.000.000 sedangkan total biaya varietas generasi baru yaitu Rp. 785.390.000 dan jumlah produksi varietas generasi baru adalah Rp. 8.535.000.000.Terdapat perbedaan nyata pendapatan usaha tani kentang varietas generasi baru dengan varietas kentang lokal. Pendapatan usaha tani hasil varietas lokal per petani adalah sebesar Rp. 126.967.174 dan rata-rata pendapatan per hektar adalah sebesar Rp. 225.719.420. Pendapatan varietas generasi baru per petani adalah sebesar Rp. 387.480.500&nbsp; dan rata-rata pendapatan per hektar adalah sebesar Rp. 508.171.148.</p> Andi Lelanovita Sardianti ##submission.copyrightStatement## 2019-01-11 2019-01-11 2 2 130 130 10.30869/jasc.v2i2.259